Senin, 16 Maret 2009

SEMUA TENTANG GUE

Cipt. -Peter paaaaaaaaaan-

Album. Gue lupa judulnya?,.

Soundtrack. Gue buangett,..............

Dipelupuk mata cakrawala senja, gue memulai kembali pagi ini.

Menterjemahkan arti bumi bagi manusia, termasuk gue tentunya.

Ditanah ini Masih banyak orang yang duduk-duduk,... maen gitar,... telanjang sambil ketawa-ketawa,...

Yach begitulah dunia,... yang aneh-aneh sekarang bukan aneh lagi.

Mau jadi apa... ??!? ngak tahu...???

Mungkin mereka terjerat dengan kebiasaan matahari yang setiap terbit terburu-buru.

Jadinya ikut-ikutan sibuk dech,...

Ngak tahu dia jadi Direktur dimana?

Atau karena hujan yang tak pernah datang menyirami hati.

Jadinya kusem, burem, runyem. (yachh pokoknya yang gelap-gelap dech,...)

gue memandang langit yang tak henti-hentinya berganti.

Mengajak gue terus bermimpi, dan Insya Allah akan gue lalui.

Punya rumah sama mobil sendiri,

terus... naik haji.

Yachh... bagaimana jika bulan, besok malam tidak bersinar?

Atau pagi nanti matahari enggan menampakkan diri?

gue kecewa atasnya.

gue telah memulainya semenjak gue pertama membuka mata.

Mengikat semangat cahaya masa depan dihadapan Tuhan.

Meninggalkan tangis, manja, atau apalah... kekanak-kanakan.

Sekarang memang bukan masa depan.

Dan masa depan pun hanya kepunyaan Tuhan...

Gue hanya bisa berharap, berdoa, juga berusaha.

Harus sedihkah gue, melihat sahabat lama menarik becak lima tahun lagi?

Atau... malah gue yang ngedorong dibelakangnya?,...

Yachh... bagaimana nanti saja?

Yang penting khan apa yang dilakukan sekarang.

Cerita masa lalu tak akan terbawa olehku.

buat apa...

Ia memang... hanya untuk dikenang.

Karya tulis, makalah, cerpen, dan puisi-puisi gue dulu dimading sekolah juga telah kusam kehujanan.

Sandal jepit dan surat cintanya pun telah lama hilang.

Mungkin hanyut waktu banjir besar di Jakarta.

Perkataan-perkataan hati juga telah menguning.

Tapi masih ada sedikit disini sekarang.

Sama seperti kitab ayahku yang dahulu dibawanya dari Jogja.

Mungkin hanya yang menulis yang bisa membacanya., itu katanya. (tulisannya jelek buangett kali...)

gue mencoba memberikan semuanya.

Untuk teman, sahabat, juga nanti kekasih tercinta. (ciyee... gue bangett.)

Sebenarnya apapun yang gue lakukan gue ngak mau kelihatan orang.

Kalau bisa, kebaikan yang gue persembahkan jangan sampai ada yang tahu, apalagi diomongin.

Jadi bagi gue, yang terjadi terjadilah.

Asalkan gue mau terus berusaha.

Biar ngak bisa, khan sudah mencoba.

Ngak Punya cewek juga ngak apa-apa.

Apalagi punya cewek...

heemmm... pasti gue pelihara !!?.

Sama... seperti perempuan yang ngak mau nyerah sama cowok yang dia suka.

Ngak pernah kalah,... Pantang menyerah,...

Tembak lagi... PDKT lagi...

Biarin aja muka tembok... dari pada ngak punya muka... repott’ lagi????

Yang penting gue suka sama dia, mau apa!!?

Gue tahu perasaannya.

Gimana yach...

Jangan sampai dia berharap terlalu banyak!.

Dan jangan sampai juga dia terlalu sakit hati.

Nanti masuk rumah sakit.

Apalagi cinta hanyalah cinta.

Yang hanya bisa dirasa.

Itu katanyaa...

Gue pengen satu bait ini dikatakan lagi:

“Aku hampir meneteskan airmata saat kubacakan sepenggal kata dari kalimatnya. Mungkin bagi laki-laki lain kisah tragis ini biasa terjadi, namun menurutku cerita ini sangat menyedihkan. Menggambarkan pria serta manusia Tuhan yang terpuruk atas keterpaksaannya menjalani cinta. Dan seumpama kisah tragis ini terjadi padaku, maka aku pun akan lebih terpuruk menghadapinya, dan entah mengapa,... Aku mendapatkan dia ketika kesombonganku bertahta disinggasana tertinggi antara langit serta jagat raya. Aku pun bersyukur atas hati yang masih sangat dicintai,... disaat kenangan itu menggema dan memecah cakrawala keangkuhanku pun berkawan kepribadian yang sungguh egois, sungkan berteman, apalagi memberkati dunia dengan seutas harapan. Aku serta Ia adalah cinta. Adalah keseluruhan mahkota persahabatan dalam kehidupan. Serta kesempurnaan khayalan yang sejak dahulu diimpi-impikan setiap orang tentang makna sekuntum nilai persahabatan. Kami melewati cercaan,... makian,... hinaan,... serta fitnah teman-teman dengan tabah dan deraian airmata. Demi kedamaian senja yang pernah menolongku,... memberikan cintanya untukku,... aku tak akan pernah melupakannya,... dan demi masa-masa terindahku,... dibalik bukit-bukit pengharapan serta angan-angan,... didalam perapian airmata,... aku akan selalu mengenangnya,... dan demi Ia yang tersayang,... jangan pernah pergi sahabatku,... juga kekasihku,...”.

itulah kalimat yang pernah gue katakan padanya.

Setiap gue baca tulisan ini, gue kayak ketiban hujan air mata.

(Basah semua kali?,...)

Begitu derasnya, sampai gue ikut terhanyut.

Yachh,... cerita itu memang telah berlalu.

Tapi enak juga,... hanya untuk dikenang.

(ehh.. Kayaknya pernah dengar...?!?? Please dechh...)

Gue akan ngambil pelajaran dari semua masa

Dari semua cinta, ketulusan, kesetiaan, dan juga pengorbanan.

Gue ngak pernah mau tenggelam...

Gue akan berenang...

Gue mau lebih sempurna dari hari sebelumnya...

Dan akhirnya,...

Gue ngak akan mau ketuker sendal jepit temen gue lagi!?,...

BT khan!?,.@/17x,...

NB:

Intrupsi...

masa bikin lagu syairnya Cuma tanya-tanya doank sich !!???

Bagaimana caranya untuk... agar kau mengerti bahwa... aku rindu?

Emang gue tahu kalo elo rindu???,.

bagaimana caranya untuk... agar kau mengerti bahwa... aku cinta?

makanya, kasih tahu donk!!... gimana sich?/...

kalo cinta, sayang bilang aja ngak apa-apa kok./?

Kalo sama-sama sayang khan lumayan,...

Yachh... itulah semua tentang gue, gue, dan hanya gue.

Sekali lagiii...

Gue buangeettt...

Peace...

***Re-written 4 www.hermawanindra.blogspot.com***